Silakan isi data Anda dan kami akan menghubungi Anda dalam waktu 2 hari kerja.
Selesai

SELAMAT DATANG DI BLOG I CAN READ INDONESIA!

Setiap bulannya kami akan menyajikan artikel-artikel baru mengenai pendidikan dan pengajaran yang berfokus pada guru, orangtua, ataupun keduanya. Apapun yang kamu pilih untuk dibaca, kami harap artikel-artikel ini bermanfaat.


VIEW MORE VIEW LESS

PARENTING DENGAN ATURAN DAN RUTINITAS KELUARGA



Mendidik seorang anak yang periang, percaya diri, dan berperilaku baik tentunya memberikan rasa senang sekaligus menantang. Banyak yang beranggapan, perilaku anak adalah cerminan dari kemampuan orang tuanya dalam mendidik. Jika seorang anak perilakunya baik, maka orang tuanya akan dianggap sukses dalam mendidik. Namun sebaliknya, jika seorang anak perilakunya kurang baik, apakah lantas orang tuanya dikatakan gagal dalam mendidik?

Agar anak tumbuh menjadi pribadi yang periang, percaya diri, dan berprilaku baik, hal apa sajakah yang diperlukan? Dari beberapa orang tua yang kita tanyai, ada satu jawaban yang sama, yaitu adanya peraturan dan runitas dalam keluarga. Mereka semua percaya dengan adanya peraturan yang praktis yang disepakati bersama akan membantu mereka dalam mengasuh anak.

Yang dimaksud dengan peraturan dan rutinitas keluarga adalah ‘pedoman’ yang dapat memastikan mana perilaku yang baik dan mana yang tidak baik. Contohnya, tidak boleh jalan sendirian di tempat umum, selalu memegang tangan mama atau papa ketika menyeberang jalan, selalu mengerjakan PR sebelum menonton TV, atau memperhatikan ketika orang dewasa sedang berbicara...

Jadi, jika kita menginginkan keluarga yang aman, tentram, dan harmonis, buatlah peraturan dan rutinitas keluarga. Kedengarannya sih mudah, tapi nyatanya para orang tua sering kewalahan dalam membuat peraturan dan menyusun rutinitas keluarga. Berikut beberapa alasannya:

  • Untuk kebanyakan anak, mengikuti rasa penasaran mereka jauh lebih penting dari pada mengikuti peraturan. Contohnya, dalam pikiran seorang anak, ‘Aku tahu seharusnya aku tidak berkeliling sendiri di mall, tapi ada TOKO MAINAN di sana!’
  • Anak-anak suka mencari perhatian. Contohnya, dalam pikiran seorang anak, ‘Aku tahu seharusnya aku tidak berisik saat Mama berbicara dengan Ibu Guru, tapi aku ingin mereka berdua tahu AKU ADA DI SINI!’
  • Anak-anak adalah ‘penguji’ kesabaran orang tua yang paling berbakat. Contohnya, dalam pikiran seorang anak, ‘Aku tahu aku seharusnya menggosok gigi setiap pagi, tapi aku penasaran seberapa lama aku bisa tidak menggosok gigiku tanpa dimarahi?’
Walau tidak mudah, kita sebagai orang tua harus mampu menyisihkan waktu dan tenaga untuk membuat peraturan dan menyusun rutinitas keluarga.

Mengapa demikian?

  • Peraturan dan rutinitas keluarga memberikan anak rasa aman dan kepastian – ya, tentu saja mereka akan mempertanyakan peraturan yang kita buat, namun sebenarnya diam-diam mereka suka kok sama peraturan dan runitas yang kita buat. 
  • Peraturan dan rutinitas keluarga memberikan anak jaminan bahwa kita akan selalu ada untuk mereka. 
  • Peraturan dan rutinitas keluarga menjelaskan kepada anak-anak apa yang kita harapakan dari mereka.
  • Peraturan dan rutinitas keluarga tentunya akan sangat membantu kita dalam mendidik anak. Contohnya, ketika kita membatasi screen-time mereka, kita membantu mereka mengembangkan kemampuan mengatur waktu dengan bijak atau memgambil keputusan yang sudah dipertimbangkan terlebih dahulu.
  • Peraturan dan rutinitas keluarga dapat membantu kita mempersiapkan masa depan anak. Dengan mengajarkan mereka mengikuti peraturan di rumah dan memahami peraturan tersebut, kita mempersiapkan mereka untuk menghadapi peraturan-peraturan dalam hidup mereka di masa depan.

Sama dengan peraturan, rutinitas keluarga juga digunakan para orang tua agar aktifitas keseharian berjalan lancar. Rutinitas adalah kebiasaan sehari-hari yang diikuti secara teratur. Saat Menyusun rutinitas keluarga, anak-anak harus paham dengan jelas apa rutinitasnya dan kenapa harus diikuti, yang kemudian akan dilakukan secara otomatis.

Beberapa contoh rutinitas yang umum dan menyenangkan untuk anak:

  • Menentukan waktu bangun tidur, mandi, berpakaian, sarapan, gosok gigi, menyisir rambut, dan menyusun buku pelajaran…
  • Meletakkan tas sekolah di tempat yang telah ditentukan begitu sampai di rumah, memakan cemilan sore, mengerjakan PR, free-time, makan malam…
  • Membereskan mainan setelah bermain.
  • Mematikan TV setelah menonton atau ketika tidak menonton.
  • Menaruh pesan penting di papan pengumuman (atau kulkas) jadi orang tua dapat melihatnya dengan mudah.

Anak-anak akan dapat menerima dan mengikuti peraturan dan rutinitas di rumah dengan lebih baik jika didukung dengan semangat yang positif – penting bagi orang tua untuk mengapresiasi usaha anak, apapun itu. Berikut ini adalah beberapa cara untuk mengapresiasi usaha mereka:

  • Beri pujian.
  • Ucapkan terima kasih.
  • Diskusikan bersama peraturan dan rutinitas keluarga dan izinkan mereka memberi ide jika ingin melakukan perubahan.
  • Star chart atau papan reward, yang dapat ditukar dengan hadiah.
  • Merencanakan kegiatan keluarga yang spesial dan menyenangkan.
  • Mengizinkan teman mereka menginap di rumah atau bermain di rumah.
  • Mentraktir mereka makanan favorit.

Untuk anak-anak, peraturan dan rutinitas keluarga memberikan mereka kepastian saat dimana kehidupan mereka terus berubah. Sebagai orang tua, kita dapat membantu anak-anak kita menerima peraturan dan rutinitas dalam hidup mereka dengan menjelaskan secara jelas kenapa setiap peraturan atau rutinitas dibutuhkan, dengan secara konsisten meminta mereka mengikuti peraturan, dan dengan memberikan mereka konsekuensi jika mereka tidak mengikuti peraturan. 

Georgia Marias
April 2021
VIEW MORE VIEW LESS

MENGAPA, OH MENGAPA?



Apakah ‘Mama’? Atau ‘Papa’? Sebagai orang tua, tentunya kita sangat menantikan kata pertama yang diucapkan anak kita dan akan selalu mengingat kata tersebut.

Namun, bahkan sebelum rasa senang tersebut sirna, kenyataan baru pun muncul dan kita tersadar bahwa mulai saat ini hidup kita sebagai orang tua tidak akan sama lagi.

Di usia 5 tahun pertama, anak-anak akan belajar rata-rata 5.000 kata baru dan akan mencapai 10.000 - 12.000 kata di usia 10 tahun. Kata benda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan… baik yang kita ajarkan secara langsung ataupun tidak, kata-kata ini memberikan anak kemampuan untuk memperluas wawasan mereka dan memahami dunia tempat mereka berada. Di antara ribuan kata-kata baru yang dipelajari ini, banyak yang digunakan untuk percakapan sehari-hari (halo, berenang, kucing, sekolah, hijau, tidak…), beberapa lainnya memiliki tema yang sama (kereta, mobil, pesawat, bus, sepeda…), dan beberapa kata yang merupakan tanda kesopanan (tolong, terima kasih, maaf, permisi, kembali…).

Begitu seorang anak menggunakan kata yang baru tersebut untuk pertama kalinya, kata tersebut akan menjadi bagian dari perkembangan kosakata yang dapat digunakan ketika mereka membutuhkannya. Namun terkadang, kata yang sangat “kuat” datang. Kata yang “kuat” ini memberikan tantangan baru, bukan hanya untuk anak itu sendiri namun juga orang-orang di sekitarnya, terutama orang tua dan guru.

‘Mengapa’ atau ‘kenapa’ adalah contoh kata-kata yang dapat dikatakan menantang. Kata-kata ini terdengar sederhana, hanya 3 suku kata. Namun, jika Anda menggali lebih dalam, “kekuatan” dan tantangan dari kata-kata ini jelas telihat.

Kemunculan kata ‘kenapa’ dalam kosakata sehari-hari seorang anak datang dengan sangat cepat sesaat setelah mereka mampu mengucapkan kata-kata pertama mereka – hari pertama adalah Mama, dan berikutnya kenapa, kenapa, kenapa, kenapa… 

  • Orang tua: ‘Waktunya gosok gigi.’ Anak: ‘Kenapa?’
  • Orang tua: ‘Sudah cukup ya waktu untuk cerita malam ini.’  Anak: ‘Kenapa?’
  • Orang tua: ‘Di luar hujan.’ Anak: ‘Kenapa?’
  • Orang tua: ‘Ayo kita kupas dulu kulit jeruknya.’ Anak: ‘Kenapa?’’
  • Orang tua: ‘Hati-hati ya saat bermain dengan anak anjingnya.’ Anak: ‘Kenapa?’

Tapi, kenapa semua ‘kenapa’?

Sederhananya, anak-anak juga sama seperti orang dewasa, bertanya karena menginginkan jawaban. Coba ingat kembali saat pertama kali Anda datang ke satu tempat baru atau mempelajari keterampilan baru, Anda juga memiliki banyak pertanyaan, kan? Apalagi saat Anda berusaha untuk memahami semuanya. Inilah yang dirasakan anak-anak kita – mereka terus menerus menjelajahi tempat baru, mempelajari keterampilan baru, diperkenalkan kepada ide-ide yang baru… jadi tidak heran jika mereka memiliki banyak pertanyaan.

Seorang anak akan bertanya rata-rata 40.000 pertanyaan pada usia 2 sampai 5 tahun. (Bayangkan apa yang dialami orang tua yang mempunya lebih dari 1 anak. Contohnya, tiga anak = 120.000 pertanyaan!). Terus menerus ditanyai ‘kenapa’ tanpa henti dapat membuat para orang tua dan guru sekalipun kehilangan kesabaran. Tapi, kita tetap harus sabar! Karena dengan mengizinkan anak-anak kita bertanya ‘kenapa’, kita menaruh dasar yang kuat agar mereka terbiasa untuk berpikir kritis dan mencari jawaban dalam hidup mereka. 

Di saat Anda mungkin berpikir untuk mengabaikan ‘kenapa’ yang tanpa hentinya berdatangan (tentu saja ada juga kapan, apa, dimana, siapa, dan bagaimana), ingatlah bahwa semakin banyak pertanyaan yang ditanyakan oleh seorang anak, semakin banyak mereka belajar – dan ini adalah hal yang baik, seperti yang dikatakan Warren Berger: ‘Knowing the answers to questions will help you in school; knowing how to ask great questions will help you in life.’

‘Mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akan membantu anda di sekolah; mengetahui cara mengajukan pertanyaan yang tepat akan membantu anda dalam kehidupan.’

Jadi, bagaimana dengan kita para orang tua dan guru? Apa yang dapat kita lakukan untuk mendukung anak-anak kita dalam mengajukan pertanyaan ‘kenapa’?

1. Menjadi Pendengar
Tunjukanlah bahwa kita menghargai pertanyaan dan rasa ingin tahu mereka dengan mendengarkan dan merespon mereka.
2. Menjadi Penyemangat
Ciptakanlah suasana dimana anak merasa aman untuk bertanya dan pujilah pertanyaan yang baik dengan semangat positif sebagaimana kita memuji jawaban yang baik.
3. Menjadi Penjawab 
Jadilah search-engine berjalan atas 100 pertanyaan sederhana yang datang kepada kita setiap harinya.
4. Menjadi Peneliti 
Tunjukan kepada anak kita bahwa terkadang untuk menemukan jawaban, terutama untuk pertanyaan yang menuntut tingkat pemikiran yang tinggi, butuh usaha dan penyelidikan. Dorong mereka untuk mempertimbangkan kemungkinan jawaban lainnya, dibandingkan mempercayai apa yang pertama kali mereka lihat dan dengar begitu saja.
5. Menjadi Sesama Pembelajar
Tanyakan kepada anak kita pertanyaan-pertanyaan. Dengan demikian, kita menunjukan bahwa usaha untuk mendapatkan pengetahuan dan pemahaman baru perlu dilakukan sepanjang masa, dan bahwa kita sebagai orang tua atau guru merekapun menghargai pemikiran dan pendapat mereka.

Sebagai orang tua dan guru, kita, bersamaan dengan semua tanggung jawab lainnya, memiliki peran untuk memberikan kemampuan kepada anak-anak dalam memperluas pengetahuan dan cara pandang mereka terhadap dunia. Pengetahuan ini dibangun atas dasar pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan.

Dengan membiasakan anak kita untuk mengajukan pertanyaan, kita mempersiapkan mereka untuk mengikuti jalan yang mereka pilih, membuat keputusan, mengevaluasi pilihan, menemukan pengetahuan, menyetujui pendapat, tidak menyetujui pendapat, dan sebagainya.

Maka dari itu, mari kita dukung anak-anak kita untuk selalu berpikir kritis dan mengajukan pertanyaan dengan tepat, dimulai dari pertanyaan ‘kenapa?’ mereka yang pertama.

Inge Wilhelm
April 2021
VIEW MORE VIEW LESS

ASLI ATAU PALSU?



Dengan begitu banyaknya informasi di internet, internet memiliki peranan yang semakin penting di kehidupan banyak orang. Internet memberikan kita kesempatan untuk belajar tanpa batas. Pada dasarnya, internet memungkinkan siapa pun untuk mendapat jawaban apa pun atas pertanyaan apa pun, dimana pun, dan kapan pun.

Anak-anak pun tidak terkecuali. Banyak dari mereka yang memiliki akun media sosial, menonton video secara online, berinteraksi di group chat, dan menggunakan search engine seperti Google. Hanya dengan mengklik sebuah tombol, seorang anak dapat menemukan apa pun di internet, mulai dari jawaban PR, video konser tahun lalu, foto-foto selebriti favorit, atau bahkan cerita lengkap tentang sebuah tragedi yang terjadi di belahan dunia mana pun.

Apalagi dalam satu tahun terakhir ini, selama masa "belajar dari rumah", banyak orangtua dan anak-anak yang menggunakan internet sebagai sumber bahan belajar atau guru pengganti, karena mereka mencoba untuk tetap produktif. Hal ini tentu saja kelihatannya baik. Tapi jika kita memperhatikannya dengan lebih seksama, dapatkah kita mempercayai apa yang mungkin internet berikan pada anak-anak kita?

Seperti yang telah kita ketahui, internet memiliki banyak informasi. Namun, apakah kita tahu dari mana informasi tersebut berasal, atau bahkan, apakah informasi tersebut benar dan dapat dipercaya? Bahkan sebagai orang dewasa, kita sering tidak bisa menentukan mana informasi yang benar dan mana yang palsu, mana yang bisa dipercaya dan mana yang tidak. Jadi, bayangkan betapa sulitnya hal ini untuk anak-anak kita.

Banyak anak-anak yang berpikir bahwa informasi yang mereka terima dari orang dewasa tentu saja asli dan dapat dipercaya. Celakanya, kebanyakan dari mereka juga berpikir bahwa informasi yang mereka dengar dan baca di internet juga benar dan dapat dipercaya! Fakta inilah yang berbahaya bagi orangtua, guru, dan terlebih lagi anak-anak!

Banyak informasi yang beredar di internet yang sebenarnya hanya berdasarkan pendapat atau opini belaka – dan seperti yang kita ketahui bersama, pendapat seseorang tidaklah selalu benar. Bahkan, pendapat seseorang sering kali tidak lebih baik dari informasi yang tidak berguna.

Informasi yang tidak berguna seperti ini, atau bisa juga disebut sebagai informasi palsu, bukanlah berita baru – dari dulu selalu ada orang yang gemar berbagi gosip dan spekulasi belaka. Tapi tidak dapat kita pungkiri bahwa internet membuat situasi ini semakin buruk dengan jangkauannya yang luas, akses yang mudah, dan teknologi mutakhir yang dapat menyajikan informasi palsu sebagai informasi yang sepertinya benar.

Perusahaan search engine ternama seperti Google dan Yahoo sudah mencoba untuk mengontrol situasi ini. Mereka berusaha keras untuk memastikan bahwa informasi yang mereka sediakan akurat dan dapat dipercaya. Tetapi informasi palsu selalu selangkah lebih maju dari kita, menjadi sesuatu yang tidak mungkin dihindari.

Jadi, apa dampak informasi palsu ini terhadap anak-anak kita?

1. 
Menyebarkan informasi palsu dapat membuat anak-anak merasa malu, kaget, dan marah.
Sudah banyak kejadian dimana seorang anak menemukan cerita yang bagus di internet, kemudian membagikannya dengan teman-temannya, yang kemudian membagikannya lagi dengan teman-teman yang lain… (karena tentu saja semua orang suka membagikan kabar baik!), namun kemudian tahu bahwa cerita yang mereka bagikan itu palsu. Begitu mereka tahu kebenarannya, mereka merasa malu karena dengan mudahnya percaya dan membagikan informasi yang tidak benar.

2. Beberapa informasi palsu dapat membahayakan kesehatan anak. 
Sebagai contoh, informasi palsu seputar Covid-19 telah banyak beredar. Beberapa sumber mengatakan bahwa pandemi ini hanyalah konspirasi, dan kita tidak memerlukan masker atau pun protokol kesehatan. Sumber lainnya mengatakan bahwa kita harus mengkonsumsi banyak protein untuk mencegah virus tersebut masuk ke tubuh kita. Sementara yang lainnya memberikan resep yang berbahaya untuk membuat hand sanitizer sendiri di rumah atau beberapa pengobatan Covid-19 lainnya. Mempercayai informasi palsu seperti ini dapat benar-benar mencelakai anak kita.

3. Terus menerus terpapar dengan informasi palsu membuat anak-anak sulit mempercayai apapun.
Jika seorang anak merasa sulit untuk menaruh kepercayaan – Siapa yang bisa dipercaya? Apakah ini asli? Yang mana yang benar? – mereka akan terus-menerus memiliki keraguan dan khawatir bahwa informasi yang mereka terima tidak ada yang asli atau pun benar, sekalipun informasi tersebut baik dan berguna.

Maka apa yang harus kita lakukan sebagai orangtua dan guru untuk mengurangi dampak informasi palsu tersebut?
  • Yang terutama, perhatikan apa yang anak-anak kita lihat di internet – batasi akses penggunaan internet mereka. Dampingi mereka saat mereka "berinternet", diskusikan apa yang mereka lihat dan dengar, pastikan mereka paham informasi yang mereka terima, dan tetap terus terlibat dalam dunia "online" mereka!
  • Secara aktif ajarkan mereka kemampuan berpikir analitis dan kritis. Anak-anak yang mencoba mencari kebenaran dari apa yang mereka dengar, atau dengan aktif berusaha memahami informasi yang mereka terima, memiliki kemampuan lebih baik untuk membedakan informasi yang benar dan yang palsu. 
  • Ayo fokus untuk terus membantu mereka menguasai kemampuan literasi yang mereka butuhkan agar mereka dapat membaca secara mandiri dan memahami sepenuhnya apa yang mereka baca.
Selanjutnya, bantu mereka untuk dapat mengenali dan mengurangi akses penyebaran informasi palsu dengan mengajarkan cara-cara berikut ini*:
  • Periksa sumber informasinya. Dari mana informasi itu datang sama pentingnya dengan informasi itu sendiri. Informasi palsu sekarang menggunakan teknologi dan media sosialuntuk terlihat sebagai sumber informasi yang terpercaya. Hal ini membuat informasi sekalipun dapat terlihat seperti asli. Pastikan bahwa nama website yang mereka akses dapat dipercaya.
  • Jangan hanya membaca judulnya saja. Informasi palsu sering tidak memiliki judul yang sesuai. Pastikan bahwa isi dari informasi tersebut sama dengan judul yang dimilikinya, dan baca keseluruhan informasi tersebut sebelum membagikannya dengan orang lain. Selalu baca dan pahami benar-benar keseluruhan informasi sebelum membagikannya dengan siapapun!
  • Berhati-hatilah dengan foto dan video hasil "editan". Apakah foto dan videonya asli atau editan? Apakah tertulis sumbernya? Di jaman sekarang ini, mengedit foto dan video sangatlah mudah sehingga hampir semua orang dapat melakukannya.
  • Pastikan kembali dengan orang dewasa. Jika mereka ragu bahwa informasi yang mereka terima itu benar atau tidak, mintalah mereka untuk mendiskusikannya dengan orangtua atau guru mereka.
Internet sebagai sumber informasi sudah menjadi bagian dari hidup banyak orang, dan fakta ini tidak akan berubah. Sebagai orangtua dan guru, kita tidak bisa (dan memang sebaiknya tidak) berusaha mencegah anak kita menggunakan internet. Namun, agar internet menjadi benar-benar berguna dalam kehidupan anak-anak kita, kita perlu ikut serta dan terlibat dalam "kehidupan online" dan media sosial mereka. Setidaknya, kitalah yang harus memperingati mereka bahwa tidak semua yang mereka dengar dan lihat di internet itu benar, dan secara aktif mengajarkan mereka keterampilan yang mereka butuhkan untuk membedakan informasi yang benar dan yang palsu.

*Diambil dari https://www.vodafone.co.uk/mobile/digital-parenting/rollup-fakenews dengan adaptasi.

Agus Haris
Maret 2021
VIEW MORE VIEW LESS

KREATIVITAS DIMULAI DARI RUMAH



Sebagai orangtua dari tiga orang anak perempuan, saya dan istri saya, seperti banyak orang tua lainnya, selalu dengan aktif mencari cara agar anak-anak kami mencapai yang terbaik dalam hidup mereka.

Sebagai orangtua dan juga pendidik (ya, istri saya juga seorang guru!), kami sangat paham pentingnya peranan kami dalam membatu mereka dalam mengembangkan kreatifitas, meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan juga perkembangan empati, sosial, dan kognitif.

Pada tulisan ini, saya akan membagikan pengalaman keluarga saya (terutama di 12 bulan terakhir di mana anak-anak saya belajar dari rumah) untuk memberi Anda gambaran tentang bagaimana saya menggunakan kegiatan sehari-hari dalam keluarga saya untuk mendorong putri-putri saya mengembangkan kreativitas mereka.

Tapi sebelumnya, mari kita berpikir sejenak tentang apa itu ‘kreativitas’.

Jika kita bertanya pada kebanyakan orangtua atau guru, atau melakukan pencarian sederhana di internet, sudah jelas bahwa kreativitas memiliki arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Beberapa orang menganggap bahwa kreativitas adalah sesuatu yang dimiliki sejak lahir, jadi pilihannya hanya kita punya kreativitas atau tidak. Beberapa lainnya melihat kreativitas sebagai keahlian dalam melukis, memainkan alat musik, atau menulis sebuah puisi. Sementara beberapa lainnya, melihat kreativitas dalam konteks yang lebih abstrak, sebagai kemampuan untuk berpikir secara berbeda, dan terus mencari inspirasi, inovasi, rasa ingin tahu, dan lain-lain.

Tetapi, meskipun kreativitas memiliki arti yang berbeda-beda, satu hal yang semua orang sepakati adalah pentingnya hubungan antara kreativitas dan literasi dalam belajar. Sederhananya, kreativitas + literasi = pengalaman belajar yang lebih baik.

Berikut adalah 8 cara atau ide untuk mendorong kreativitas anak yang saya dan istri saya terapkan di rumah:
  1. Kami mulai dengan menyediakan lingkungan yang aman bagi putri-putri kami untuk mengeskpresikan kreativitas mereka. Rumah kami dipenuhi dengan buku-buku dan mainan. Rumah kami juga selalu dipenuhi dengan canda tawa, pertanyaan-pertanyaan dan dukungan untuk mencoba hal-hal yang baru dan berbeda.
  2. Kami mencoba untuk tidak selalu memerintah mereka untuk melakukan apa yang kami pikir harus mereka lakukan. Namun, kami membiarkan putri-putri kami untuk mengambil keputusan bersama mengenai aktivitas apa yang dapat mereka lakukan sendiri ataupun bersama sebagai sebuah keluarga. Mereka juga punya papan tulis kecil di kamar tidur mereka untuk menuliskan ide-ide, dan kami kemudian berpikir bersama untuk menentukan aktivitas mana yang dapat kami lakukan di akhir pekan. Salah satu kegiatan favorit kami adalah memasak makanan yang lezat bersama-sama. Memasak merupakan salah satu aktivitas yang membutuhkan kreativitas: aktivitas ini melatih kemampuan matematika dan ilmu pengetahuan alam, serta membaca dan mengikuti petunjuk, dan tentu saja kami dapat memakan makanan yang nikmat setelah selesai!
  3. Memberikan putri-putri kami waktu dan tempat untuk membuat ‘kekacauan dan kegaduhan’. Walaupun terkadang keadaan rumah jadi berantakan, kami tahu kreativitas lebih sering datang dari kekacauan. (Tentu saja kami meminta mereka untuk membereskannya setelah kegiatan selesai).
  4. Kami memberikan sebanyak mungkin waktu kami kepada putri-putri kami – meskipun seperti yang semua orangtua ketahui, tidak peduli seberapa banyak waktu yang kita berikan untuk anak-anak kita, selalu tidak cukup! – Ketika kami menghabiskan waktu bersama putri-putri kami, kami terus-menerus mendorong mereka untuk berimajinasi dan membagikan ide dan pikiran mereka.
  5. Kami tahu bahwa kami tidak boleh membatasi kreativitas putri-putri kami hanya pada ‘karya seni’ saja, jadi kami juga memberikan mereka kesempatan untuk menjelajahi kegiatan lainnya. Ketiga putri-putri kami berumur 10, 6, dan 4 tahun, semuanya memiliki sepeda karena keluarga kami gemar bersepeda. Ketika kami bersepeda, kami menggunakan kesempatan ini untuk berbagi pikiran tentang kehidupan, negara, keluarga, sejarah, dan tradisi kami. Tentu saja, kami sebenarnya dapat mengajarkan hal-hal ini melalui sebuah buku, tetapi bukankah jauh lebih menyenangkan untuk belajar selagi berada di luar dan berinteraksi dengan dunia ‘nyata’?
  6. Kami selalu dengan aktif mendorong putri-putri kami untuk bermain sambil belajar. Putri-putri kami suka bermain peran (role-play), dan karena mereka banyak melihat kami mengajar secara online (yang banyak kami lakukan di satu tahun terakhir ini) mereka mendapatkan banyak ide untuk permainan peran mereka sebagai guru dan murid. Karena putri-putri kami melihat bahwa kami sendiri menggunakan kreativitas dalam kehidupan dan pekerjaan kami, mereka semakin sadar bahwa kreativitas akan berguna seumur hidup mereka.
  7. Kami memuji keingintahuan dan kegigihan. Tidak semua pikiran atau tindakan yang kreatif akan membuahkan hasil, dan kami telah memberitahu putri-putri kami bahwa kegagalan adalah sesuatu yang wajar. Tidak semua gambar akan menjadi maha karya, tidak semua ide akan disetujui, tidak semua aktivitas yang baru akan dapat dinikmati – tetapi jika ini terjadi, kami selalu mendorong putri-putri kami untuk membuat perubahan yang dibutuhkan, atau untuk memikirkan pilihan mereka dan mencoba kembali.
  8. Kami tidak beranggapan bahwa ada jenis kreativitas yang lebih baik dari jenis kreativitas lainnya, jadi kami memuji putri-putri kami untuk semua aktivitas kreatif yang mereka lakukan, baik itu ide yang menarik, pertanyaan yang cerdas, kalimat yang tersusun dengan sangat baik di cerita yang mereka tulis, kue lezat yang mereka bantu buat, tarian yang mereka ciptakan sendiri, dan lainnya.
Sebagai orangtua, saya dan istri saya tidak ‘memaksakan’ anak-anak kami untuk menjadi kreatif. Kreativitas yang sesungguhnya tidak datang karena terpaksa. Tapi yang dapat kami lakukan adalah menggunakan rumah kami sebagai ‘wadah’ bagi putri-putri kami untuk bebas bermain, berimajinasi, bereksperimen, berbagi, dan berekspresi. Dengan memberikan dukungan kepada mereka selagi mereka masih muda, kami berharap mereka menjadi pembelajar kreatif seumur hidup mereka dan dapat menikmati pelajaran yang mereka dapatkan selama prosesnya.

Riagus Izzan
March 2021
VIEW MORE VIEW LESS

APAKAH INI SAATNYA UNTUK MEMPERTIMBANGKAN SEBUAH PERUBAHAN?



Ada satu fakta menarik mengenai I CAN READ Teaching Community yang perlu anda ketahui: ICR Indonesia memiliki jumlah guru paling banyak yang memilih untuk tetap tinggal dan mengajar dalam waktu yang lama.

Seorang guru biasanya memilih untuk tetap berkarir dalam dunia pendidikan karena beberapa alasan. Banyak diantaranya adalah alasan yang positif: mereka suka tempat tempat mereka mengajar, mereka nyaman dengan teman kerja, murid, dan atasan mereka, atau mereka sangat menyukai mata pelajaran yang mereka ajarkan dan mereka memiliki gairah untuk mendidik generasi penerus.

Setiap guru yang memutuskan untuk mengajar karena alasan di atas, baik mereka yang sudah mengajar untuk waktu lama atau baru, dalam diri mereka terdapat:

Pengetahuan, Pengalaman, Kepercayaan-diri, Komitmen, Stabilitas, Antusiasme, Semangat, dan hal-hal positif lainnya.

Dan mengapa hal-hal tersebut sangat penting? Karena, seperti apa yang Spesialis Edukasi Amerika, John Meehan katakan:

‘Teachers who love teaching, teach students to love learning.’

‘Guru yang suka mengajar, mengajarkan murid untuk suka belajar.’

Lalu bagaimana dengan guru yang memilih untuk tetap berkarir di dunia pendidikan karena alasan yang tidak sesuai? Mereka mungkin hanya perlu perkerjaan dan bersedia melakukan pekerjaan apapun. Atau mungkin mereka sedang berada dalam zona nyaman, di mana mereka merasa tidak perlu meningkatkan kemampuan diri atau mencoba sesuatu yang baru, atau mungkin, mereka berpikir bahwa lebih mudah untuk tetap melalukan pekerjaan yang mereka rasa "tidak sesuai" dibanding mengambil risiko untuk mencari pekerjaan yang tepat.

Setiap guru yang memutuskan untuk mengajar karena alasan di atas, baik mereka yang sudah mengajar untuk waktu lama atau baru, dalam diri mereka terdapat:

Ketidakpuasan, Kebosanan, Ketidak-pedulian, Frustasi, Rasa cepat puas diri, Kekecewaan, dan hal-hal negatif lainnya.

Dan mengapa hal ini sangat berbahaya? Karena murid-murid kita layak untuk mendapatkan yang lebih baik!

Jadi, apakah Anda tahu di sisi mana Anda berada? Apakah Anda tahu alasan sesungguhnya Anda memilih untuk tetap berkarir di dunia pendidikan? Dan, akankah Anda tahu jika mungkin inilah saatnya untuk mempertimbangkan sebuah perubahan?

Dua pertanyaan pertama yang di atas bersifat pribadi dan untuk dijawab sejujur-jujurnya. Namun, pertanyaan yang terakhir lebih umum.

Sekolah, termasuk juga I CAN READ Centre, bergantung pada guru-guru yang mereka miliki. Kami berusaha keras untuk menemukan guru yang tepat, dan ketika kami menemukan guru yang handal (atau bahkan sangat handal), tentu saja kami tidak ingin mereka pergi. Tapi, bagaimana dari sisi sang guru? Kapan dan kenapa seorang guru harus berpikir untuk membuat perubahan?

Mari kita lihat 5 alasan yang sering disebutkan para guru sebagai panggilan yang menyadarkan mereka bahwa mungkin ada yang salah dengan situasi mengajar mereka sekarang.

1. 
Ketika mengajar tidak lagi memberikan Anda rasa puas dan bahagia: melihat murid tumbuh dan berkembang selama proses belajar adalah salah satu kebahagiaan terbesar seorang guru. Ketika Anda tidak lagi merasakannya, mungkin Anda harus berpikir kembali tentang keputusan Anda untuk tetap mengajar?

2. Ketika tiba saatnya untuk memiliki pengalaman yang lebih luas:
Sekolah yang sama dengan kurikulum yang sama, teman kerja yang sama dan murid yang sama, hanya akan memberikan Anda pengalaman mengajar yang sama. Berada di tempat yang berbeda mungkin adalah satu-satunya yang Anda butuhkan untuk memberikan Anda inspirasi dalam meningkatkan kualitas mengajar Anda.

3. Ketika Anda tidak lagi bertumbuh dan berkembang sebagai seorang guru:
Jika Anda masih mengajar dengan cara yang persis sama seperti apa yang Anda lakukan dua tahun lalu, atau bahkan tahun lalu – mungkin ini adalah saatnya untuk Anda mencari ide, gagasan, metode, dan inspirasi yang baru.

4. Ketika Anda terjebak dalam rutinitas dan tidak lagi memiliki semangat dan antusiasme dalam mengajar:
Mungkin Anda telah kehilangan semangat mengajar Anda. Namun mengajar tanpa semangat dan antusiasme hanya akan merugikan Anda dan murid anda. Hidup ini terlalu pendek untuk terjebak dalam pekerjaan yang tidak membuat Anda semangat untuk bekerja.

5. Ketika Anda perlu kembali menemukan gairah terhadap dunia mengajar:
Ketika Anda bertanya kepada guru manapun mengapa mereka memilih karir dalam dunia pendidikan, sebagian besar akan menjawab bahwa mereka memiliki gairah untuk menjadi bagian dari hidup anak-anak dan mempersiapkan masa depan mereka. Jika Anda merasa bahwa Anda tidak memiliki rasa gairah ini lagi, mungkin sudah saatnya Anda mengambil waktu sejenak untuk berpikir dan menemukan rasa gairah yang baru: mungkin mengajar di tempat yang baru atau mencoba sesuatu yang sama sekali berbeda.

Jika Anda merasa bahwa hal-hal diatas adalah apa yang sekarang Anda alami, tenang saja. Bukan berarti Anda sekarang juga harus berhenti mengajar dan menjadi penjaga satwa alam liar (tapi ini tentu perkerjaan yang menarik kan!).

Hal di atas hanya memberikan Anda "tanda" bahwa ada sesuatu yang harus diubah - baik kecil maupun besar. Seperti yang Tony Robbins katakan, ‘nothing changes, nothing changes’. ‘Jika tidak ada yang diubah, maka tidak ada yang berubah.’ Jika Anda ingin melihat perubahan dalam hidup Anda, Anda harus mengambil sikap proaktif dan membuat perubahan yang ingin Anda lihat!

Sekalipun jika hasil pemikiran Anda adalah Anda memutuskan untuk berhenti mengajar dan mencari pekerjaan lain, itulah yang harus Anda lakukan. Tentu saja membutuhkan keberanian yang besar untuk mengambil keputusan tersebut, namun ada kesempatan yang besar juga di dalamnya. Di sisi lain, jika Anda menyadari bahwa inilah saatnya untuk kembali mengevaluasi kondisi mengajar Anda, dan membuat keputusan tentang apa yang harus Anda ubah untuk kembali membakar semangat Anda dalam mengajar, mengembangkan keterampilan mengajar, atau mencari pengalaman mengajar yang berbeda, maka buatlah rencana untuk itu dan lakukanlah!

Pada akhirnya, sebagian besar guru memiliki komitmen dan gairah dalam mengajar hanya jika mengajar memberikan rasa puas dalam hidup mereka, baik secara pribadi maupun sosial. 

Jika bukan hal ini yang ANDA rasakan sekarang, mungkin ini saatnya untuk mempertimbangkan sebuah perubahan?

Inge Wilhelm
February 2021
VIEW MORE VIEW LESS

MEMPERKAYA DUNIA ANAK



"Ada banyak cara sederhana untuk memperkaya dunia anak Anda. Namun cinta akan buku adalah cara yang terbaik!" - Jackie Kennedy.

Di I CAN READ, kami mengajarkan agar anak-anak gemar membaca. Nyatanya, sudah lebih dari 20 tahun kami mengabdikan waktu dan tenaga kami untuk mengembangkan dan menguji program belajar kami. Dengan mengikuti program ini, ribuan pembelajar di seluruh dunia telah sukses dan menjadikan membaca sebagai hobi mereka.

Sebagai guru dan orangtua, tentu saja kita mengetahui bahwa kemampuan membaca memiliki peran yang besar dalam kesuksesan akademis. Mengapa demikian?

Karena, 1. Membaca meningkatkan:
  • Kapasitas dan Pengetahuan Kosakata
  • Imajinasi dan Kreatifitas
  • Rasa Ingin Tahu
  • Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi dan Kemampuan Analisis
  • Empati
  • Kemampuan Komunikasi

Dan, 2. Membaca memiliki peran dalam:
  • Membantu anak memahami dunia secara lebih luas dan dalam 
  • Membantu anak terhubung dan merasa nyaman dengan dunia sekitar mereka
  • Mengembangkan kemampuan kognitif
  • Mengembangkan kemampuan sosial dan emosional

Ketika seorang anak datang ke I CAN READ Centre atau masuk sekolah untuk pertama kalinya, banyak dari mereka yang telah memiliki pengalaman dalam membaca buku. Beberapa di antaranya adalah pengalaman yang baik dan positif, sementara yang lainnya, sayangnya tidak.

Dalam bertahun-tahun pengalaman kami sebagai Reading Specialist, kami sadar bahwa menuntun anak untuk mahir membaca membutuhkan keikutsertaan para orangtua. Jadi, apa yang dapat Anda lakukan sebagai orangtua untuk menuntun anak Anda menjadi gemar membaca seumur hidup mereka?

Berikut adalah 6 rekomendasi terbaik kami:

1. Mulailah dari diri sendiri: 
Anak-anak melihat kepada orangtua untuk mendapatkan contoh dalam bertindak. Dan untuk membaca, contoh yang paling baik adalah untuk membiarkan mereka melihat bahwa Anda sendiri gemar membaca. Penelitian menunjukan bahwa anak yang dikelilingi orang-orang yang suka membaca – baik orangtua, saudara, atau guru mereka, besar kemungkinan akan menjadi suka membaca juga. Maka jadilah model yang baik untuk anak Anda dalam hal membaca!

2. Baca cerita untuk anak Anda:
Anak-anak cenderung menyerap semua yang mereka dengar dan lihat. Ketika Anda membaca untuk anak Anda, mereka akan meningkatkan kemampuan mendengar mereka, kapasitas rentang perhatian mereka, imajinasi dan kreatifitas mereka, rasa cinta atas dunia mereka, dan juga mengembangkan kemampuan sosial, emosional dan kognitif mereka.

Dan di saat yang sama, Anda dan anak Anda juga akan membangun hubungan yang lebih dalam dan dapat menikmati waktu bersama. Bagi seorang anak, pengalaman yang mereka rasakan positif ini memiliki hubungan yang erat dengan membaca yang akan mendorong mereka untuk melakukannya terus menerus.

3. Berikan anak Anda akses pada buku: 
Tumbuh besar di lingkungan yang penuh dengan buku, majalah, koran dan lainnya memberikan kontribusi penting dalam mendidik anak untuk gemar membaca. Jika mereka dapat dengan mudah mengambil berbagai macam buku, mereka memiliki pilihan untuk menentukan apa yang ingin mereka baca. Apa yang mungkin menarik bagi seorang anak, bisa saja sama sekali tidak menarik untuk anak lainnya. Memberikan anak anda beragam pilihan buku untuk dibaca akan membangun rasa tanggung jawab mereka atas apa yang mereka pilih.

Buku adalah hadiah yang baik untuk ulang tahun anak atau acara lainnya. Cara yang lain adalah dengan membawa anak Anda ke perpustakaan. Perpustakaan memberikan anak Anda kesempatan untuk bereksperimen dengan pilihan bacaan mereka – jika mereka membawa pulang buku yang tidak mereka suka, mereka dapat dengan mudah mengembalikan buku tersebut dan menukarnya dengan buku yang lain. Perpustakaan membuka pintu dunia penuh dengan kesempatan bagi anak Anda.

4. Tunjukan ketertarikan Anda atas apa yang mereka baca:
Sebagai orang tua, kita biasanya bertanya bagaimana latihan musik atau olahraga anak kita berlangsung – tapi apakah kita juga melakukan hal yang sama saat anak kita membaca? 

Saat Anda berdiskusi dengan anak Anda tentang apa yang mereka baca, Anda menunjukan bahwa Anda tertarik atas apa yang mereka baca, dan seperti yang banyak orangtua ketahui, anak-anak suka menjadi pusat perhatian orangtua mereka.

Diskusi tentang buku akan jauh lebih menyenangkan jika Anda tidak bertanya terlalu banyak. Lebih baik, minta anak Anda untuk memberi-tahu Anda apa yang mereka suka dari buku yang mereka baca dan apa yang mereka rasakan ketika membaca buku tersebut.

5. Sisihkan waktu untuk membaca:
Memiliki waktu yang terjadwal (dan terus mengikuti jadwal tersebut) untuk membaca, baik membaca bersama-sama atau sendiri-sendiri, dapat membangun kebiasaan dalam diri anak Anda untuk mengambil buku dan membaca, dan mengesampingkan alat elektronik mereka.
Tentu saja di jaman sekarang ini, banyak dari kita yang membca di kindles atau tablet secara elektronik. Namun untuk membantu anak yang baru belajar membaca, saat kita masih memiliki pilihan untuk membaca menggunakan buku fisik, ayo kita matikan gadget kita dan mengambil buku yang asli.

6. Jadikan kesempatan membantu anak Anda membaca sebagai prioritas:
Jika kita menggali lebih dalam, seorang anak yang tidak suka membaca umumnya adalah mereka yang tidak memiliki kemampuan membaca yang baik. Dan meskipun sebagai orangtua kita dapat dan mampu mendorong anak untuk gemar membaca, kita harus tetap ingat bahwa kemampuan membaca tidak datang begitu saja: kemampuan ini harus dengan aktif diajarkan.

Untuk kebanyakan anak, kemampuan ini mereka pelajari di sekolah. Namun untuk beberapa anak lainnya, mungkin dibutuhkan bantuan lebih. Jika sebagai orangtua, Anda khawatir akan kemampuan membaca anak Anda, cobalah berbicara dengan guru atau dapat datang ke Reading Spesialist seperti I CAN READ. Kami akan dengan senang hati membantu!

Bagi para orangtua yang sedang membaca ini dan bertanya-tanya, ‘Bagaimana aku harus memulainya?’ Mulailah dengan hal-hal kecil – mungkin malam ini, bacakan sebuah cerita untuk anak Anda sebelum dia tidur, atau mungkin bicara dengan mereka tentang apa yang mereka baca, atau mungkin kunjungi perpustakaan lokal. 

Tidak ada benar dan salah mengenai hal ini. Satu-satunya hal yang harus Anda lakukan adalah memulainya!

Inge Wilhelm

February 2021
VIEW MORE VIEW LESS